Rabu, 28 Januari 2015

Relakan Sepenuhnya

Jika memang engkau melepasnya maka lepaskanlah seutuhnya
Jika memang engkau tak lagi menginginkannya maka bebaskan dia sepenuhnya
Jika memang engkau ingin mencari bahagiamu tanpanya maka jangan menyiksanya dengan ceritamu tentangnya
Jika benar engkau telah mema'afkannya maka jangan lagi mengungkit dosa yang ingin dihapusnya
Jangan menggali luka yang sudah susah payah ia obati
Jangan perlakukan seakan dialah penyebab semua kemalanganmu
Tidakkah kau lihat jauh didalam hatinya ada sumur duka yang terus kau tambah dalamnya
Bukankah engkau yang sepakat untuk saling merelakan?
Bukankah engkau yang memintanya berhenti dan mencari kebahagiaan masing-masing?
Lantas apalagi perlumu mengungkitnya?
Bukankah itu artinya kau tak pernah benar-benar rela?
Engkau tak pernah benar-benar menerima keputusannya
Dimana sosok yang katamu pernah begitu menyayanginya?
Dimana dia yang katamu akan lebih sakit jika melihatnya terluka?
Dimana dirimu yang rela berkorban untuk kebahagiaannya?
Dimana dirimu itu?
Ahh..
Engkau memang tak pernah benar-benar mencintainya
Atau ...
Engkau memang tak pernah benar-benar melupakannya


~Numa~

Kamis, 04 September 2014

Kala Rindu Memilu



Kala rindu memilu
dinginnya akan mengalahkan luka
sakit tak hanya yang tersakit
sesak tak hanya yang tersesak
bosan tak hanya yang terbosan
hanya satu yang semakin memuncak
mimpi bertamu diujung pagi
menyibak embun di dedaunan
menyerap hangat dari mentari
memulai bait dalam diam
berbagi pilu nan sayu
menyedu rasa yang akhirnya bersua dengan empunya
 
Kala rindu memilu
mimpi mendesak ingin diwujudkan
perjumpan menjadi impian terbesar
pertemuan menjadi lebih dicintai dari siapapun
bersua lebih diharapkan dari apapun

Kala rindu memilu
temanku hanyalah diri
meski raga dipasar
hati serasa di hutan
sendiri

~Numa~

Senin, 17 Maret 2014

Bicara tentang hujan
adalah bicara tentang tetesan demi tetesan kenangan
saat takut membuat kikuk
saat dingin membawa tetesan tentangnya
tentang pagi
tentang rembulan
dan sepotong senyuman

Angin masih menari (Mencari Jati Diri)


Wahai angin yang masih menari
kemana engkau bawa jiwamu ?
dimana engkau kokohkan hatimu ?
apa lagi yang engkau cemaskan ?
bukankah telah banyak dedaunan yang engkau jatuhkan ?
bukannkah telah ramai debu engkau terbangkan ?
mau mencari apa lagi ?
mau membuktikan apa lagi ?
wahai angin yang masih menari
tidakkah engkau lelah dengan sayap-sayapmu yang tak pernah berhenti ?
apakah ia akan terus terbang begitu ?
menjatuhkan jiwa-jiwa yang mempercayai kesejukanmu
lalu apa yang tersisa untukmu ?
semuanya telah jatuh
patah
bahkan kehampaan
engkau hendak kemana ?

~Numa~